Perjalanan Menuju Blue Fire Gunung Ijen

MENUJU BANYUWANGI
Blue Fire Gunung Ijen
Walaupun jadwal cuti mepet, tapi tetep maksain demi lihat si blue fire dan akhirnya berangkatlah kami ber 4 (awalnya ber 6) pffftttttt.

Perjalanan di mulai dari st. kiaracondong (bandung) menuju st. lempuyangan (jogja) menggunakan KA. Kahuripan, tak banyak aktifitas dilakukan di dalam kereta, hanya sesekali bermain kartu untuk menghabiskan waktu luang.


Main Kartu

Sekitar pukul 05.10 pagi kamipun sampai di st.lempuyangan, bergegas ke mesjid sekalian ikut rebahan sebelum menaiki kereta selanjutnya yang akan berangkat pukul 07.00 pagi.
KA. Sri Tanjung
Tepat pukul 07.00 pagi kami menaiki KA. Sri Tanjung dengan tujuan St. Karang Asem Banyuwangi, Sebenernya di Banyuwangi itu ada 2 stasiun utama yaitu Karang Asem dan Banyuwangi Baru, nah biasanya yang mau naik ke Gunung Ijen itu turun di st. karang asem, sementara St. banyuwangi baru di peruntukan untuk mereka yang hendak akan menuju pulau bali, karena lokasi stasiunnya sendiri dekat denganpelabuhan ketapang.
Saat berada di kereta Sri Tanjung

Di tiket kereta sendiri kami akan tiba di banyuwangi sekitar pukul 22.00, kebayangkan jauhnya seperti apa? tapi sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang enak di pandang mata, bak layak kereta wisata yang memperkenalkan daerah baru yang belum kami ketahui.. yyeeyy

TIBA DI STASIUN KARANGASEM BANYUWANGI

Pukul 23.00 kami tiba di stasiun karangasem, lega rasanya bisa kembali menghirup udara segar, walaupun badan udah kayak rempeyek akibat seharian ngebangke di kereta.
Pertama kami mencari makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Ijen, perut emang udah kelaperan dari tadi sih karena makan siang hanya di doping sama pop mie, huuhhh. untung saja di depan stasiun karangasem ada beberapa warung yang buka 24 jam, yippppee. "Bu pesan nasi beserta lauk pauknya dan jangan lupa teh hangatnya yah !!"

Setelah perut terisi kami melanjutkan perjalanan menuju Paltidung, paltidung sendiri merupakan basecamp untuk menuju Gn. Ijen, kami berangkat menggunakan mobil travel yang telah kami sewa seminggu sebelumnya, harganya dikisaran 400-500rb, kalau mau lebih murah sih bisa pake motor, di depan stasiun banyak persewaan sepeda motor,  cuman karena pertimbangan keamanan dan kondisi fisik yang tak memungkinkan untuk membawa motor di malam hari terlebih jalur yang akan kami lewati cukup ekstrem, so "pilihlah sesuai dengan kemampuanmu"

MENUJU PALTIDUNG

Sebelumnya saya berunding terlebih dahulu kepada penyedia jasa travel (mas helmy), karena belakangan ini banyak mobil travel yang dicegat di daerah licin dan di paksa untuk menyewa dan menggunakan jeep/tropper untuk melanjutkan ke paltidung. karena jalan menuju paltidung sendiri sangat sempit dan tanjakannya sangat extream, maka dari itu banyak paguyuban sana yang mencegat mobil2 travel di pos licin untuk berganti ke jepp/tropper. Namun karena mas helmy menjamin tidak akan di oper ke jeep akhirnya kamipun berangkat !! *yah tekor juga kalau disuruh ganti ke jepp tropper hehehe

Pukul 12.15 kami berangkat menuju paltidung, sepanjang perjalanan kami melewati hutan-hutan, dan tanjakan extream, saya melihat ada beberapa orang yang menggunakan sepeda motor musti di dorong karena tidak kuat naik, kasian juga sih tapi tetep semangat yak !! jalanan cenderung sepi dan berkelok, dari pos licin menuju paltidung sendiri kebanyakan kami melewati hutan dengan vegetasi yang cukup rapat. saya sendiri sangat serius melihat jalan sebari mengajak ngobrol sang supir, sementara tio yang duduk di kursi depan sudah tepar duluan akibat kekenyangan, sedangkan si irvan yang duduk di kursi belakang nyungseb gak karuan (mungkin sudah 5 watt), nahh si novi nih, dia mau jackpot guyss karena kena angin malam. saya buru-buru nyari keresek tapi karena si novi udah gak kuat akhirnya dia jackpot di dalam mobil. jadi gak enak sama yang empuunya mobil. maaf yah mas'e hehehhe

TIBA DI PALTIDUNG

Setibanya di paltidung (basecamp gunung ijen) saya meyakinkan si novi apakah dia kuat untuk mendaki atau tidak, dan seperti biasa wonder women yang satu ini selalu bilang "kuat", ohh girl, how strong you are?

Waktu turun dari mobil, si tio yang baru bangun langsung linglung kayak orang mabok, sampe-sampe nanyain "something" ke orang banyuwangi pake bahasa sunda, lawan bicaranya sampe bengong gak tau apa yang dimaksud wkkwkw, akhirnya si tio pun mengakhiri pembicaraan tersebut dan bergegas meninggalkan lawan bicaranya, hahaha entah nyawa si tio masih di bandung atau gimana pokoknya koclak waktu melihatnya.

Nah ini tersangka yang lagi mabok
Oh yah, di paltidung sendiri suhunya sangat berbeda drastis dengan kota banyuwangi, dingin yang menusuk tulang membuat fantasi sendiri akan nikmatnya tidur berselimut hangat.. ohhhh walaupun hanya fantasi sesaat tapi saya bisa merasakan akan kenikmatannya.


MULAI MENDAKI

Loket pendakian sebenarnya dibuka pada pukul 02.00 pagi, tapi sekitar pukul 01.00 loket sudah di buka, kamipun begegas mengantri dan memulai pendakian pada pukul 01.30 dini hari, awal pendakian didominasi track berpasir yang landai, sekitar 15 menit kemudian track berubah menjadi tanjakan berpasir nan licin, sangat disarankan memakai sepatu  khusus untuk mendaki. Pendakian ke gunung ijen sendiri di lakukan dengan cara tiktok karena di atas sana dilarang untuk membuat tenda dengan alasan gas belerang yang sewaktu-waktu menjadi musuh utama bagi para pendaki maupun penambang belerang. Oh iya, tiket masuk ke gunung ijen sendiri sebesar 5rb/orang.

gelap gannnn...
Walaupun puncak masih jauh tapi gas belerang sudah mulai tercium, peralatan yang wajib untuk di bawa saat mendaki gunung ijen yaitu masker, kalau bisa sih masker nya yang anti-dust spray biar bisa melihat blue firenya dari dekat hiiiihiii.

Berjalan dengan pasti, sekitar pukul 03.15 pagi kami telah sampai di puncak ijen. cukup cepat sih walaupun jalannya lelet tapi karena masih sepi jadi trekkingnya tidak terlalu ngantri hihihihi. untuk melihat blue fire sendiri kami harus turun melewati jalur yang cukup curam dan melewati batu-batu tak beraturan sebagai pijakannya, walaupun perjalanan cukup melelahkan tapi semuanya kami lakukan demi melihat si api biru abadi yang katanya hanya ada 2 di dunia. *wonderfull indonesia

pakai masker abal-abal
Blue Fire terlihat dari atas Gunung Ijen
Sebenarnya di puncakpun sudah bisa melihat blue fire dari kejauhan, jangan di tanya bagaimana keindahannya, pokoknya indah banget, saya sampai terkagum-kagum melihatnya. Namun kurang afdol rasanya jika tidak melihat blue fire dari dekat, kami ber 4 pun turun melewati turunan curam, belum banyak pengunjung waktu itu, hanya ada beberapa wisatawan beserta para penambang belerang, namun ada 1 wisatawan asing waktu itu sedang di tandu oleh beberapa orang, menurut kabarnya sih mbule tersebut terpeleset saat turun untuk melihat blue fire, ditambah mbule tersebut melakukan pendakian tidak sesuai jam yang telah di tentukan pihak pengelola, begitulah kabar yang terdengar, jadi tujuan pendakian di buka pada pukul 02.00 dini hari agar terhindar dari gas beracun yang keluar dari kawah juga agar berbarengan dengan jam operasional penambang belerang sehingga dapat mengurangi resiko seperti mbule tersebut, karena jalan turun menuju blue fire sangat curam, serius curam menn...

Kembali ke cerita, 20 menit melewati turunan yang curam kamipun hampir mendekati blue fire, namun tiba-tiba asap belerang tebal nan pekat mengarah kepada kami semua, alhasil kami yang menggunakan masker abal-abal langsung terkepung oleh kumpulan asap belerang, rasa sesak memasuki kerongkongan saya, sebagian wisatawan berlarian kembali ke atas termasuk juga kami untuk menghindari gas beracun tersebut, layaknya kumpulan wedus gembel yang menyapu para manusia, untung saja kami semua selamat, namun si tio cerita bahwa dia hampir mati karena sesak nafas, hahahhaaa.

Habis terkena asap belerang, masker saya penuh debu belerang
Akhirnya kamipun mengurungkan niat untuk mendekati blue fire dan menjaga jarak aman setiap kali angin berhembus ke arah kami. Berbeda dengan wisatawan asing yang menggunakan masker anti dust spray, dengan santainya mereka mendekati blue fire tanpa takut terkena kepulan asap belerang, tapi yang lebih kerennya sih para penambang belerang, hanya menggunakan kaos yang dirubah menjadi masker dadakan, mereka semua dengan enjoy-nya menambang dengan jarak yang begitu dekat dengan si blue fire, bahkan ada beberapa penambang yang tidak menggunakan masker sama sekali, seperti sudah bersahabat saja, sayapun di buat TER-CENGANG melihatnya.

Menjaga Jarak Dengan si Blue Fire
Puas Menikmati pemandangan blue fire yang menakjubkan, sekitar pukul 04.15 kamipun bergegas naik, tetapi jalur yang akan kami naiki sudah penuh sesak dengan para pengunjung yang baru datang dan hendak melihat si blue fire, alhasil terjadi kemacetan di sepanjang jalur turun maupun naik. Sebagai orang indonesia yang baik saya dan teman-temanpun mengantri di tengah bau belereng yang sesekali tercium masuk kerongkongan, namun ada hal yang membuat saya miris ketika melihat para penambang belerang yang hendak naik membawa puluhan kilo belerang tersendat oleh antrian wisatawan yang seakan menghiraukan keberadaan para penambang, seharusnya wisatawan bisa lebih peka terhadap apa yang ada di sekeliling mereka, berikanlah jalan kepada para penambang dan bersabarlah jika sedang berada di belakang para penambang, sejatinya jalan batu yang curam tak cukup untuk saling salip menyalip antar pengunjung, hargailah para penambang yang menggantungkan nasibnya untuk sesuap nasi dan menghidupi keluarganya, kita tak lebih dari sekedar tamu yang hanya menghabiskan uang untuk melihat keindahan si api biru abadi ini.

Saat hendak naik, ngantri gan !!
Sekitar pukul 05.00 kamipun telah sampai kembali di puncak dan mataharipun sudah mulai menampakan ke-agungannya, langit yang tadinya gelap berubah menjadi orange bercampur biru, sungguh pemandangan yang memanjakan mata di tambah disebelah utara terdapat danau ijen yang sangat-sangat indah. serius perfect moment pokoknya ahhhh syukaaa deh, namun karena angin yang sangat kencang jadi mendadak kebelet kencing akhirnya saya dan novi pergi turun untuk mencari tempat melepaskan hasrat yang tertunda ini nguehehehhe.
Angin yang semakin kencang mengurunkan niat kami untuk naik kembali, akhirnya kami berdua tiduran di pinggir jalur pendakian tidak jauh dari puncak sebari menunggu si tio dan irvan turun.

Sekitar pukul 05.30 matahari semakin gagah menampakan dirinya, saya dan novi yang sedikit tidur manja langsung terbangun dan menikmati pemandangan luar biasya menakjubkan ini, walaupun tidak langsung menghadap sang surya karena berada di jalur pendakian, tetapi pemandangan tetap saja keren, sunrise kali ini kami di suguhkan oleh pemandangan gunung raung yang sedang menyemburkan isi perutnya.. Ohh kau sungguh begitu menawan......

Pemandangan Gunung Raung Dari Gunung Ijen
Sunrise
Sunrise, masih masuk ke dalam kawasan pegunungan Ijen
Sekitar pukul 06.00 kamipun bertemu kembali dengan irvan dan tio, sungguh perjalanan yang sangat melelahkan namun terbayar dengan keindahan yang begitu mempesona, selain itu bukan cuman keindahan yang kami dapat dari perjalanan kali ini, tetapi tentang pelajaran hidup yang berharga, tentang bagaimana kerasnya kehidupan, keringat yang bercucuran deras dan resiko yang di dapat tak sebanding dengan uang yang mereka terima, namun dari semua itu mereka masih tetap bersyukur, beryukur dan bersyukur, semoga dalam keadaan apapun saya dapat belajar dari mereka bahwa bersyukur akan terasa nikmat walaupun hasil yang di dapat masih terasa kurang, karena bersyukur akan membuat kita bahagia dalam kondisi apapun.

Ayye Arifin

We Are Crazy ^_^

1 comment: